Dampak Kulit Putih Terhadap Wanita India
Dampak Kulit Putih Terhadap Wanita India
Kulit putih dalam masyarakat India terkait dengan kelas dan hak istimewa. Orang-orang yang memiliki kulit putih lebih banyak mendapatkan kesempatan dalam meraih kesuksesan dibandingkan orang yang berkulit gelap. Menurut Dirks (2004), kelas dan warna kulit memainkan peran penting dalam organisasi kekuatan ekonomi, politik dan sosial. Warna kulit juga lebih mempengaruhi wanita daripada pria dalam hal kecantikan. Hal tersebut berdampak pada banyaknya produk-produk kecantikan yang menjanjikan warna kulit yang putih.
Krim pemutih kulit merupakan salah satu bisnis besar yang di kalangan wanita India. Praktik pemutihan kulit berakar pada konteks historis dan kolonial dan bernuansa gender (Goon dan Craven, 2003). Tidak semua krim pemutih kulit memiliki kandungan yang aman. Beberapa krim pemutih kulit dapat menyebabkan kelainan fisik yang parah jika berasal dari bahan-bahan berbahaya seperti merkuri dan hidrokuinon. Akibat yang didapatlkan dari penggunaan krim pemutih yang tidak aman seperti kulit terasa terbakar dan mengelupas, kulit menjadi lebih sensitif, dan kanker kulit. Semua dilakukan untuk mendapat warna kulit yang putih dan cerah.
Orang dengan warna kulit yang cerah lebih banyak mendapatkan keuntungan seperti memudahkan mereka mendapat pekerjaan, lebih dihargai oleh orang lain, wanita dengan kulit yang cerah lebih besar kemungkinan menikah dibandingkan dengan mereka yang berkulit gelap, dan kemudahan lainnya. Sedangkan orang yang berkulit gelap cenderung sulit mendapatkan pekerjaan. Orang yang berkulit gelap identik dengan pekerja kasar yang banyak menghabiskan waktu diluar ruangan.
Penyebabnya adalah teori whiteness
mengarah pada studi colorism. Colorism
sendiri pertama kali muncul dalam tulisan Alice Walker yang diartikan sebagai
perlakuan yang merugikan (prejudicial) atau istimewa (preferential) terhadap
individu tertentu dalam ras yang sama berdasarkan warna kulitnya. Sejarah dari
munculnya colorism erat hubungannya
dengan adanya dengan sikap rasisme kolonial dalam era penjajahan.
Ideologi colorism dipertahankan secara sistematis melalui
penyebaran gambar di media massa yang memunculkan definisi kecantikan. Dengan
cara ini perwujudan kecantikan menjadi homogen. Kecantikan barat menonjolkan bentuk
tubuh tinggi dan langsing, rambut pirang, mata biru dan kulit putih dengan
standar yang sangat berbeda dengan negara berkembang. Arti kecantikan mengalami
proses homogenisasi yang dibandingan sebelumnya, standar kecantikan bervariasi
dari satu negara ke negara lainnya.
Nama : Alya Muhdiyah Fasyah
ReplyDeleteNPM : 2010701008
Kelas : A Peternakan 2020